Selasa, 25 September 2012

Berkenalan Lagi Dengan Al Qur'an

Al Qur’an,, sejak kecil aku sudah mengenalnya. Ia layaknya seperti sebuah buku berjilid yang didalamnya bertuliskan huruf-huruf arab. Aku sempat dibuat penasaran oleh buku berjilid ini, karena untuk bisa membacanya aku harus menjalani tahapan terlebih dahulu, yaitu; dengan mulai mengaji dari IQRO pertama sampai IQRO keenam. Hem, Begitu bersemangatnya aku waktu itu ingin segera menyelesaikan tahapan ngaji IQRO. Karena betapa besarnya rasa penasaranku terhadap buku berjilid yang bertuliskan huruf-huruf keriting itu (begitulah orang kampungku menyebutnya). Dan alhamdulillah, aku tidak butuh waktu lama untuk menghatamkan ngaji IQRO dari 1 sampai 6. Cuma kisaran 5/6 bulan saja. Setelah itu, aku mulai merambaki huruf-huruf keriting yang sebelumnya aku fikir mudah untuk membacanya. Tapi ternyata, sungguh sangat berbeda. Aku diharuskan membacanya secara tartil sesuai dengan tajwidannya (hukum bacaan Al Qur’an). Malang nian nasibku kala itu, karena ternyata (aku yang masih kecil) otakku belum bisa meresapi apalagi memahami hukum-hukum bacaan Al Qur’an. Jadilah aku membacanya dengan ala kadarnya sesuai dengan apa yang aku pelajari di kutubu sittah (alias IQRO), tapi tentu tidak terlalu begitu parah (Cuma tahu panjang pendek doang,, lumayan). Begitulah aku semakin dibuat penasaran untuk bisa membacanya secara tartil dan sesuai dengan hukum tajwidnya.
            Namun, hal lain terjadi pada diriku. Setelah beranjak dewasa (ABG), aku malah mulai menjauh dari Al Qur’an. Padahal waktu itu alhamdulillah, aku sudah bisa membacanya secara tartil dan sesuai dengan hukum tajwid. Entah kenapa? Aku seperti disibukkan oleh masa ke-ABG-anku. Sehingga sebagian besar waktuku habis hanyalah untuk bermain dan nongkrong bersama kawan-kawan ABG yang lain. Bahkan waktu ba’da maghrib pun aku pergunakan dalam kesia-siaan. Padahal dahulu, ba’da maghrib merupakan waktu rutinku untuk mengaji Al Qur’an. Sampai ahirnya aku malu sendiri ketika melihat banyak dari anak-anak kecil yang begitu bersemangat dalam mengaji IQRO. Bahkan ada diantara mereka yang sudah sampai mengaji Al Qur’an. Subhanallah, dipeluknya dengan erat Al Qur’an itu di dadanya sebagai suatu kebanggaan. Hah, kenapa aku lupa bahwa waktu kecil aku pernah seperti itu. Memeluk erat Al Qur’an di dadaku sebagai suatu kebanggaan diri seraya bergumam dalam hati; “Aku-lah si sohib Al Qur’an”. Aku benar-benar telah lalai. Astagfirull
            Dan alhamdulillah, kini aku mulai berkenalan lagi dengan Al Qur’an. Ingin mengenalnya dengan secara lebih jauh, lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Karena ternyata, Al Qur’an adalah kalam (perkataan) Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tersurat dan terkirim buat kita semua sebagai petunjuk juga sebagai pedoman hidup agar kita bisa merasakan kebahagiaan dunia-akhirat. Oleh karena itu, aku secara pribadi mulai termotifasi untuk  bisa lebih memahami dan memperhatikannya lalu menyimpannya (menghafalnya) dengan tidak sekedar hanya di kepala tapi juga di dalam dada. Dan insya Allah akan berupaya juga untuk selalu mengaplikasikannya didalam kehidupan ini. Allahul Musta’an.

Do'a-Do'a


Do’a (penyempurna) sebelum tidur
1. اللهم أسلمت نفسي إليك, و وجهت وجهي إليك, و فوضت أمري إليك, و ألجأت ظهري إليك, رغبة و رهبة إليك, لا ملجأ ولا منجى منك إلا إليك,أمنت بكتابك الذي أنزلت و أمنت بنبيك الذي أرسلت. (متفق عليه)
Artinya : “Ya Allah hanya kepadaMu-lah aku menyerahkan jiwaku, dan hanya kepadaMu-lah aku menghadapkan wajahku, dan hanya kepadaMu-lah aku menyerahkan urusanku, dan hanya kepadaMu-lah aku menyandarkan (segala kelelahan) punggungku, dengan penuh rasa harap dan takut kepadaMu, (sesungguhnya) tidak ada tempat bersandar dan tempat berlindung dari (murkaMu) melainkan hanya kepadaMu jua, aku telah beriman kepada kitabMu yang telah Engkau turunkan (Al Qur’an) dan aku telah beriman kepada NabiMu yang telah Engkau utus (Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).
Do’a keluar rumah
2. باسم الله توكلت على الله, اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أضل, أو أزل أو أزل, أو أظلم أو أظلم, أو أجهل أو أجهل علي. (حديث صحيح)
Artinya : “Dengan menyebut nama Allah, hanya kepadaNya-lah aku bertawakkal, Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu (agar) aku tidak tersesat atau disesatkan, atau (agar) aku tidak tergelincir atau digelincirkan, atau (agar) aku tidak berbuat zholim atau dizholimi, atau (agar) aku tidak berbuat kebodohan atau dibodohi.
Do’a masuk rumah
3. بسم الله ولجنا و بسم الله خرجنا و على ربنا توكلنا. (ثم السلام على أهل البيت)
Artinya : “Dengan menyebut nama Allah kami masuk (rumah), dan dengan menyebut namaNya kami keluar (rumah), dan hanya kepada Allah-lah kami bertawakkal”.

Sabtu, 25 Agustus 2012

2 Kunci


Kawan, sudah tahukah kita?
Bahwa;
Kita berasal dari  bahan yang sama; MANI
Kita tercipta dari campuran yang sama; SARI PATI  TANAH
Kita terlahir dari orang tua yang sama; ADAM-HAWA
Kita mempunyai tempat tinggal yang sama; BUMI
Kelak pun, segera atau nanti;
Kita akan mengendarai kendaraan yang sama; KERANDA
Kita akan tertidur di tempat yang sama; KUBUR
Kita akan memakai pakaian yang sama; KAFAN
Dan kita akan kembali ke tempat yang sama; AKHIRAT
Berkumpul di tempat yang sama; PADANG MAHSYAR
Tapi, kita tidak tahu…
Apakah kita akan menerima buku yang sama.. buku kabar baik; CATATAN AMAL BAIK
Ataukah kita akan menerima buku yang berbeda.. buku kabar buruk; CATATAN AMAL BURUK
Lalu,,
Apakah kita akan berada di kamar yang sama.. ruang kenikmatan..?; SYURGA
Ataukah di kamar yang berbeda.. ruang kesengsaraan?; NERAKA

Wahai kawan,,
Beri tahulah aku,, perlihatkanlah kepadaku,,
Kunci kamar manakah yang sekarang engkau pegang…???
 “subhanallah wal hamdulillah,, ternyata engkau telah memiliki kunci SYURGA”
Lantas bolehkah aku ikut memiliki satu kunci itu denganmu,,!?
Aku ingin ikut dibelakangmu, agar kita bisa memasuki kamar yang sama; SYURGA
Sebab telah aku dapati wahai kawan;  2 KUNCI DI TANGANKU
Dan keduanya sama persis…
Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah,

Minggu, 19 Agustus 2012

Khutbah 'Ciri-ciri Orang Yang Bersyukur'


Khutbah pertama


Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.yang senantiasa memberikan karunia, rahmat serta ni’mat-Nya kepada kita semua berdasarkan ukuran dan kebutuhan hidup kita agar kita tidak termasuk sebagai hamba yang melampaui batas. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat As syuuro : 27 ; 



“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat”.
Sholawat serta salam semoga tetap tersampaikan kepada Nabi kita Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga, para sohabat, serta para pengikut beliau hingga ahir zaman.

Jama’ah sholat jum’ah yang berbahagia…

Dalam kesempatan yang mulia ini khotib mewasiatkan khususnya untuk pribadi khotib sendiri dan umumnya untuk jama’ah sekalian agar kita bersama senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita dengan menjalankan segala amal ibadah dan amal-amal sholih di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jama’ah sholat jum’ah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
            
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kita agar kita selalu bersyukur kepada-Nya; bersyukur atas segala ni’mat yang telah Allah berikan kepada kita tanpa harus melihat besar kecilnya ni’mat yang di dapat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : 

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Al Baqoroh : 152)

Bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala bukanlah sekedar atas ni’mat atau pemberian yang ada pada kita saja. Akan tetapi kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah karena bersyukur merukapan cerminan diri kita sebagai hamba-Nya yang bertakwa; yang tulus nan setia menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 


“Maka bertakwalah kamu kepada Allah, agar kamu (dapat) bersyukur kepada-Nya”. (Ali ‘imron : 123)
            
Dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.adalah juga merupakan sebuah pembuktian akan kejujuran penghambaan diri kita hanya kepada-Nya La Syariika Lah. Subuah bukti bahwa hanya kepada-Nya lah kita menghambakan diri yang lemah ini.

“Dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika memang benar hanya kepada-Nya lah kamu menghambakan diri”. (Al Baqoroh : 172)  


Jama’ah sholat jum’ah yang dirahmati Allah…
            
Seorang hamba bisa dikatakan sebagai hamba yang bersyukur apabila ia; yang pertama MEYAKINI bahwa ni’mat/karunia yang ada pada dirinya merupakan pemberian dan titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala      yang jikalau Allah berkehendak, Allah bisa mengambilnya kembali. Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi kita Sulaiman ‘alaihis salam ketika beliau mendapat ni’amat dan karunia dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala..
            
“(Nabi Sulaiman) berkata: "Ini merupakan kurnia dari Allah untuk mengujiku apakah aku bersyukur (atas karunia ini) ataukah aku mengingkarinya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (An Naml : 40)
            
Yang kedua; hamba yang bersyukur adalah ia yang bibirnya selalu mengucap kata Alhamdulillah disetiap kali ia mendapat ni’mat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.atau disetiap kali ia menyadari bahwa dirinya mempunyai banyak kebaikan dan kelebihan. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Bapak dan anaknya yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam.
             
“Dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman." (An Naml : 15)

Bahkan ketika seorang hamba ditimpa musibah pun, ia mampuh mengucapkan kata ‘Alhamdulillah…’. Dan ini-lah seorang hamba yang pernah dikatakan oleh seorang ‘alim ‘ulama bahwa ; “orang pertama yang diseur untuk memasuki syurga adalah asy syakiru ‘ala musibah (orang yang mampuh bersyukur atas musibah yang menimpanya). Dan dalam hadits pun diriwayatkan bahwa hamba yang seperti ini akan dibangunkan baginya sebuah ruma di syurga.
            
Dari Abu Musa al Asy ‘ari berkata; Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
           
 “Apabila telah meninggal seorang anak dari hamba Allah, Allah berkata kepada para malaikat-Nya ; ‘apakah kalian telah mengambil nyawa anak hamba-Ku?’.. para malaikat berkata ; ‘ya’.. Allah berkata lagi ; ‘kalian telah mengambil nyawa buah hatinya?’.. malaikat berkata : ‘ya’.. kemudian Allah berkata ; ‘lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?’.. malaikat berkata ; ‘ia memuji-Mu (Alhamdulillah) dan beristirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un)’.. kemudian Allah berkata ; ‘bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di syurga, dan namailah rumah itu RUMAH PUJIAN’..” (HR At Tirmidzi Hasan Shohih)
            
Yang ketiga; hamba yang bersyukur adalah ia yang selalu menggunakan setiap ni’mat yang ada pada dirinya adalah untuk kebaikan di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.. Ia menggunakannya dalam rangka meningkatkan ketaatan dan taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dan ia menggunakannya  adalah untuk kepentingan agama, untuk kemanfa’atan banyak orang yang mana Allah redho terhadapnya dan ia pun redho terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini pernah dicontohkan oleh para sohabat Radiyallahu ‘Anhum yang mana mereka berkorban menginfakkan harta, tenaga serta jiwa mereka di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Mereka mengabdikan diri di jalan-Nya demi meraih cita-cita tertinggi sebagai syuhada.
            
Yang keempat; hamba yang bersyukur adalah ia yang mampuh merespon atau menanggapi sebuah ni’mat atau karunia yang telah Allah berikan kepadanya. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang mana beliau telah dikaruniakan sebuah ni’mat yang begitu agung yaitu telah dijanjikan syurga dan telah diampuni dosa-dosa beliau baik yang telah lalu mau pun yang akan datang. Beliau Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam merespon atau menanggapi adanya ni’mat karunia tersebut dengan banyak beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga diriwayatkan dalam hadits bahwa kaki beliau sampai bengkak-bengkak dikarenakan seringnya beribadah; berdiri, bersujud dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampai istrinya ‘Aisyah bertanya; “ya Rasulallah, bukankah engkau telah dijanjikan syurga oleh Allah dan telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?.. lalu mengapa engkau membebani diri dengan banyak beribadah sampai kakimu bengkak?”.. Rasulullah pun menjawab; “tidak-kah boleh jikalau aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”..
            
Dan yang kelima atau yang terakhir; hamba yang bersyukur adalah ia yang mampuh menghargai kebaikan orang lain. Ia senang berterima kasih atas kebaikan orang-orang di sekelilingnya.
            
Dari Abu Huroiroh Radiyallahu ‘Anhu dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda; “tidak dianggap bersyukur kepada Allah, seorang yang tidak pernah berterima kasih (atas kebaikan orang lain kepadanya)”. Dan dalam riwayat lain, beliau bersabda; “manusia yang paling bersyukur kepada Allah adalah ia yang senang berterimakasih kepada manusia lainnya (atas kebaikan mereka)”.


Khutbah kedua
            
Jama’ah sholat jum’ah yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Sebelum ditutupnya khutbah ini khotib mengingatkan bahwa tidaklah perlu kita memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan harta yang banyak, tidak perlu memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa lebih kaya dari orang lain… tapi hendaknya, kita berfikir bahwa bagaimana caranya agar diri kita ini bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala ni’mat dan karunia-Nya yang begitu banyak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : 

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrohim : 34)
           

Kamis, 26 Juli 2012

Semut


            Bismillah,,

            Ini tentang makhluq kecil yang bernama semut, makhluq yang sering luput dari perhatian kita, karena memang sepertinya makhluq ini tidak begitu penting. Tapi cobalah sejenak kita memperhatikan dan mencermati makhluq kecil ini, makhluq yang jarang dipedullikan lagi tak teranggap keberadaannya “kasihan nian”. Sehingga tidak jarang kita mendapati bibir yang bertutur : “ah, apa urusan saya dengan makhluq kecil ini, ngapain juga harus peduli dan perhatian sama dia.. tak ada istimewanya”. Padahal, jikalau kita mau sadar dan mengerti bahwa makhluq kecil itu pun adalah makhluq ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang patut untuk ditaffakkuri dan dipelajari serta direnungi. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa mengambil pelajaran berharga darinya atau pun kita dapat menemukan suatu keajaiban yang dimiliki oleh makhluq kecil ini. Sehingga (Insya Allah) kita pun akan tersadar bahwa ternyata Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia atau secara begitu saja. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : “Ya Rabb kami, (sungguh) Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia (dengan begitu saja), maha suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka” (Ali Imron : 191).

            Wahai sobat, marilah coba kita menengok pada sebuah kisah yang diceritakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al Qur’an : “sehingga tatkala mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut ; ‘wahai semut-semut !!! masuklah kedalam sarang-sarang kalian agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari’. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu….” (An Naml : 18-19). Dan ahirnya, Nabi Sulaiman pun merasa takjub dengan ucapan semut tersebut. kemudian dia pun berdo’a kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang luar biasa ini yaitu; dapat memahami pembicaraan binatang.

            Dan Subhanallah wahai sobat, ternyata semut pula mempunyai jiwa kepemimpinan yang dengannya ia dapat memerintahkan sabagian yang lain agar selamat dari injakan kaki Nabi Sulaiman dan pasukannya. Namun sungguh disayangkan, jikalau kita melihat diluar sana masih banyak manusia yang senang membinasakan dan merusak sarang-sarang makhluq kecil ini. Padahal semut adalah merupakan makhluq yang senantiasa bertasbih memuji Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan sungguh Allah tidak akan senang jikalau ada manusia yang mencoba merusak dan membinasakan sarang-sarang semut. Sebagaimana dalam hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “ada seseorang, dia adalah Nabi yang singgah (beristirahat) di bawah pohon, kemudian ada seekor semut yang menggigitnya. Lalu Nabi tersebut mengambil peralatannya (karena marah) langsung saja ia membakar sarang semut tersebut. kemudian Allah pun menurunkan wahyu kepadanya : ‘apakah dikarenakan seekor semut yang menggigitmu, kamu membakar sekelompok umat yang bertasbih kepada-Ku (Allah). Kenapa tidak satu semut saja yang kau balas?’.” (HR. Muslim)
            Lillahil hamdu kulluh,, betapa luar biasanya makhluq kecil ini. Ternyata bentuknya yang kecil itu tidak pernah menghalanginya untuk selalu bertasbih memuji Rabb-nya yang telah menciptakannya. Lantas bagaimana dengan kita sebagai makhluq yang diberi kecerdasan akal pikiran..??? masihkah kita enggan untuk bertasbih memuji Allah dan masihkah juga kita enggan untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan-Nyakepada kita semua..???. Sesungguhnya manusia itu benar-benar makhluq yang sangat kufur terhadap nikmat Rabb-nya. Kecuali manusia yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka ia sangat pandai mensyukuri nikmat-Nya meski pun hanya sedikit. (Ibnu Qurtubi al Barbasy)
           
            

Senin, 23 Juli 2012

Romadhon


Sesungguhnya telah datang menyapa kita suatu bulan yang mana Allah subhanahu wa ta’ala melipat gandakan pahala seorang hamba yang beramal sholih. Bulan yang mana Allah menaburkan benih-benih karunia yang begitu banyak. Bulan yang mana Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu-pintu kebaikan bagi mereka yang mencintai kebaikan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, rahmat serta ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Bulan yang selalu dirindukan oleh para hamba Allah yang sholih. Dia-lah bulan romadhon. Bulan yang mana kita diwajibkan berpuasa pada siang harinya dan disunahkan bagi kita pada malam harinya qiyamu romadhon atau sholatut tarowih.
وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم قال : "مَن صام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم مِن ذنبه " .
Dari Abi Huroiroh radiyallahu ‘anhu, dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Barangsiapa yang berpuasa di bulan romadhon dengan penuh keimanan dan pengharapan akan pahala yang ada padanya, maka diampunilah dosanya yang telah lalu”
Dalam konteks hadits ini disebutkan adanya dua syarat dalam melaksanakan ibadah puasa. Agar  kita bisa meraih maghfiroh Allah subhanahu wa ta’ala ; yaitu iman dan ihtisab.
-          yang pertama IMAN; barangsiapa yang berpuasa di bulan romadhon dengan penuh keimanan; yaitu iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya iman dan juga iman kepada syari’atnya (perintah-Nya) yang merupakan kewajiban bagi kita; yaitu syari’at puasa di bulan suci romadhon selama satu bulan penuh. Kita meyakini bahwa syari’at ibadah puasa di bulan romadhon ini adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan merupakan syari’at-Nya yang diwajibkan kepada kita.
-          Yang kedua IHTISAB; dalam artian ketika kita menjalankan ibadah puasa di bulan suci romadhon hanyalah mengharapkan redo dan pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Niat kita murni berpuasa hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, bukan untuk selain-Nya. Sebagaimana dalam hadits : “sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya”. Jikalau niat kita dalam berpuasa di bulan suci romadhon ini murni hanya untuk Allah (hanya untuk mengharapkan pahala dari-Nya), maka balasannya pun insya Allah akan murni; yaitu berupa syurga ar- rayan (syurganya orang-orang yang berpuasa).
عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم قال : " إن في الجنة باباً يقال له الريان يدخل منه الصائمون يوم القيامة لا يدخل مِنه أحدٌ غيرهم يقال أين الصائمون فيقومون لا يدخل منه أحد غيرهم فإذا دخلوا أغلق فلم يدخل منه أحدٌ " .
Dari sahl bin sa’d radiyallahu ‘anhu dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“sesungguhnya di syurga terdapat satu pintu yang disebut ar rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk darinya pada hari kiyamat dan tidak untuk selain mereka. (kemudian) dikatakan ; ‘dimanakah orang-orang yang berpuasa?’ maka mereka berdiri (kemudian memasukinya) dan tidak memasukinya selain mereka. Maka apabila mereka telah masuk, ditutuplah pintu itu. dan tidak ada lagi seorang pun yang bisa memasukinya”
Dan adapun jikalau kita berpuasa untuk selain-Nya/ hanya untuk kepentingan dunia saja, atau hanya sekedar menutup rasa malu, atau hanya sekedar ikut-ikutan masyarakat saja. Maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala
telah berfirman :
“Dan kami datangkan (kepada mereka) suatu amalan yang telah mereka kerjakan (ketika di dunia), lalu kami jadikan amalan itu seperti debu-debu yang bertebaran”(al furqon : 23)
Inilah gambaran suatu amalan ibadah yang ditujukan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala seperti debu-debu yang bertebaran. Dan begitu pula keadaan suatu ibadah yang tidak di dasari dengan ilmu akan menjadi seperti debu-debu yang bertaburan. Oleh karena itu khotib mewasiatkan agar para jama’ah sekalian mempelajari ilmu-ilmu tentang ibadah puasa di bulan suci ini melalui konsultasi dengan ustadz-ustadz yang mumpuni dalam keilmuannya atau melalui fatwa-fatwa yang tertulis di buku-buku atau di berbagai majalah. Kenapa…??? Agar kita bisa meraih pahala yang sempurna dalam menjalankan ibadah puasa ini. Allahul musta’an.

Si Rembo

'Si Rembo',,, 

Sepeda ala kadarnya ini ku beri nama REMBO...

Inilah sepada yang selalu menemani perjalanan-ku...

Baik perjalanan pendek maupun perjalanan panjang,, hampir setiap hari aku mengendarai Si Rembo menyusuri jalanan kota Cilacap... tentu untuk tujuan mulia atau hanya sekedar refreshing biasa...

Si Rembo merupakan sepeda peninggalan dari seorang kawan...

Ia menyerahkannya dengan begitu saja, hanya dengan sebuah pesan "Pergunakalah dengan baik,,,"...

Dan waktu itu, aku menerima Si Rembo dalam keadaan yang lumayan memprihatinkan... tapi alhamdulillah masih bisa dipakai...

Lalu ahirnya, aku berinisiatif untuk sedikit meng-GAGAHKAN-nya... dengan sedikit menghabiskan uang saku-ku...


Alhamdulillah,,,
Sedikit-banyaknya aku telah belajar dari keberadaan Si Rembo...

Dengan Si Rembo, aku lebih bisa menikmati setiap alur jalan kota Cilacap dengan santai dan nyaman...

Dengan Si Rembo, aku bisa merasakan bagaimana tetes demi tetes keringat keluar dari tubuh-ku...

Si Rembo adalah jagoan jalanan,,, tanpa perlu asupan BBM... cukup hanya dengan goesan kaki, ia langsung bisa melencing...


Aku mencintai apa yang aku warisi Si Rembo...

TERIMA KASIH KAWAN... ^_^

Jumat, 29 Juni 2012

Sedikit Alasan "Kenapa Aku Menulis?"


“Aku menulis, aku axis”

1.       Melalui tulisan aku ingin dikenang oleh anak-cucu
2.       Melalui tulisan aku ingin berbekas; dengan sesuatu yang aku sebut “Karya”
3.       Melalui tulisan aku ingin mengumumkan bahwa aku-lah “Sang Lelaki”
4.       Melalui tulisan aku ingin meremukan teori bohong Darwin “Manusia dan Sinpance adalah satu nenek   moyang”. Aku bilang itu bohong…!!! Manusia menulis, Sinpance tidak!.
5.       Melalui tulisan aku ingin hidup 2 kali; hidup sebelum mati dan hidup setelah mati
6.       Melalui tulisan aku ingin berbagi pengalaman hidup; “Pengalaman adalah guru yang bijak”.
7.       Melalui tulisan aku ingin Allah tahu, dan Dia pasti tahu karena Dia-lah Yang Maha Mengetahui; bahwa aku adalah seorang hamba yang pernah mengaduh melalui tulisan.