Minggu, 26 Februari 2012

Sepucuk surat (tak tersampaikan)


Senjaku,
Sebenarnya aku tak ingin menulis apa-apa untukmu,
Tapi entah bagaimana, aku tulis juga ini,
Aku tulis ini dengan hati yang sedikit terkikis,
Karena kerinduan yang selalu datang menyusup,
Datang tanpa aku harapkan, datang begitu saja,
Dan keadaan pun selalu  memaksaku untuk merinduimu juga,
Kau mengerti itu, aku rindu kamu,
Entah banyak atau sedikit, yang pasti ‘AKU RINDU KAMU’,

Ingin sebenarnya aku  bertemu denganmu,
Bercerita banyak tentang kisah hati yang berkelana jauh,
Jauh tanpamu,,  tanpa kuningkemerahan senja,
Oh senjaku, andai kau selalu ada disisiku,
Tapi,,, Allah memang sangat-lah maha adil,
Aku, begitu pula kamu ada dalam takdir_Nya,
Ya sudahlah,, AKU PASRAH,
Semoga engkau baik-baik saja,
Disana… di lorong penantian,
Aku pasti kembali ‘Insya Allah’,
Entah aku kembali mendapatimu tetap menanti,
Entah aku kembali mendapatimu bersandar dipundak seseorang,
Hanya Allah Yang Maha Tahu, Dia-lah sebaik-baik penyusun rencana,
Sedang kewajiban-ku hanyalah rela dan berlapang hati,

Sudahkah Kita Bercermin?

            Sahabatku,,, dalam keseharian kehidupan ini, kita seringkali melakukan aktifitas bercermin tanpa pernah bosan barang sedikitpun. Padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga. Tidak ada yang berubah. Bahkan disetiap kesempatan  yang  tidak  memungkinkan pun, kita masih menyempatkan diri untuk bercermin. Kenapa demikian?!! Karena memang kita semua selalu ingin berpenampilan indah bahkan sempurna, kita tidak ingin berpenampilan mengecewakan apalagi kusut acak-acakan tidak karuhan. Hanya saja jangan sampai kita terlena dan terbuai oleh topeng kita sendiri, terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu, mari-lah kita jadikan saat bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati tapi yang paling penting adalah mengamati apa yang ada dibalik topeng itu yaitu diri kita sendiri.
  Saudaraku,,, mulailah amati wajah kita seraya bertanya; Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar  indah di surga sana; “Pada hari itu ada wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria”. (‘Abasa : 38-39). Ataukah wajah ini yang akan bermuram durja penuh kepahitan dan penyesalan; “Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram), tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan)”. (‘Abasa : 40-41).
Lalu tatap-lah pula mata kita seraya bertanya; Apakah mata ini yang kelak dapat melihat atau memandang kenikmatan penuh kerinduan di surga indah sana, menatap Allah Yang Maha Agung, menatap Rasulullah, menatap Para Nabi, menatap Para Kekasih Allah; “Wajah-wajah (orang mu’min) pada hari itu berseri-seri, memandang (Allah) Rabb mereka” (Al Qiyamah : 22-23). Ataukah pandangan mata ini yang kelak akan tertunduk tidak mampu menatap apa yang akan menimpanya; “Pandangan mereka tertunduk ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang berterbangan”. (Al Qomar : 7). Wahai saudaraku,, Apakah mata yang sering maksiat ini akan menyelamatkan??? Wahai mata, apa gerangan yang engkau tatap selama ini???.
Lalu tataplah mulut ini, apakah mulut ini di akhir hayat nanti dapat mengucapkan Kalimah Thoyibah “La Ilaaha IllaAllah”???, dan apakah juga kelak dapat memakan berbagai kenikmatan; “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan amal yang kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”. (Al Haqqoh : 24). Ataukah akan menjadi mulut berbusa yang menjulur di akhirat, dimakankan buah Zaqqum yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta diminumkan lahar dan nanah; “Sungguh pohon Zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas”. (Ad Dukhon : 43-46). Begitu terlalu banyaknya dusta, gibah dan fitnah serta orang yang terluka disebabkan mulut kita ini. Wahai mulut, apa gerangan yang selama ini engkau ucapkan??? Betapa banyak dusta yang kau ucapkan, betapa banyak hati-hati yang remuk disebabkan kata-katamu yang bagai pisau menyayat dan mengiris  hati orang yang mendengarnya. Betapa banyak kata manis bagai madu yang terucap hanya untuk menipu beberapa orang, dan betapa jarang engkau berkata jujur, dan betapa jarang engkau menyebut nama Allah dengan tulus, betapa jarangnya engkau Syahdu memohon agar Allah mengampunimu dosa-dosamu.
            Sahabatku,,, tataplah diri kita dan tanyalah; Hai kamu..! kamu ini orang soleh atau orang durjana? Apa saja yang telah engkau peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan selain menyakiti, membebani dan menyusahkannya. Tidak tahukah engkau bahwa sesungguhnya engkau adalah mahluk yang tidak tahu balas budi. Cobalah pula kita melihat tubuh atau badan ini, sudah berapa banyakkah maksiat yang telah dilakukan oleh tubuh ini? Berapa banyakkah orang yang telah kita zholimi dengan tubuh ini? Berapa banyakkah hamba Allah yang lemah yang telah kita tindas dengan kekuatan kita?, Berapa banyakkah orang yang rindu akan pertolongan kita tapi kita acuhkan begitu saja tanpa peduli padahal sebenarnya kita mampu?! Berapa banyak pula hak orang yang pernah kita rampas? Wahai tubuh seperti apa gerangan isi hatimu?. Apakah hatimu sebagus kata-katamu, atau sekelam daki yang melekat ditubuhmu. Apakah hatimu segagah otot-ototmu? Ataukah selemah daun-daun yang mudah berguguran rontok jatuh diatas tanah?!. Apakah hatimu indah seindah penampilanmu??? Ataukah malah sebusuk kotoran-kotoranmu.
Saudaraku,,, ingatlah amal-amal kita. Berapa banyakkah sebenarnya aib nista yang kita sembunyikan dibalik penampilan kita ini? Apakah kita ini si dermawan atau si pelit yang menyebalkan? Berapa banyakkah uang yang pernah kita infaq-kan/shodaqohkan? Lalu bandingkan dengan uang yang kita gunakan untuk selera rendah hawa nafsu kita.
Siapakah sebenarnya diri kita ini?! Apakah kita ini benar-benar orang shalih seperti yang selalu kita tampakkan selama ini? Sudah khusyukkah solat kita, dzikir kita, doa kita? Dan Ikhlaskah kita melakukan semua itu?. Jujurlah… Sungguh betapa jauh beda apa yang  nampak di cermin dengan apa yang ada didalam hati. Sungguh kita telah tertipu oleh topeng, betapa apa yang kita lihat selama ini hanyalah sebuah topeng, hanyalah gumpalan tanah yang dibentuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi.
            Sahabatku,,, sesungguhnya bercermin adalah waktu yang tepat untuk merenungi, dan menangisi siapakah sebenarnya dibalik topeng ini? Siapakah diri kita ini? Siapakah sebenarnya yang selama ini kita tatap, kita lihat, dan kita pandang di cermin? Calon Penghuni Syurga ataukah calon penghuni Neraka?!. Allahu A’lam.

Pengaduan cinta



kiriman dari seorang sahabat, semoga Allah merahmatinya.


Ya rabbi, aku masih ingat saat dulu pertama kali aku belajar mencintaimu. Lembar demi lembar kitab  aku pelajari, untai demi untai kata para ustad aku resapi tentang cinta para nabi, tentang kasih para sahabat, tentang kerinduan para syuhada. Lalu aku tanam dalam jiwa dalam-dalam, aku tumbuhkan dalam hati dan idealisme yang mengawang di awan. Tapi rabbi, detik terbilang menit terbilang jam terbilang hari kemudian terbilang tahun yang berlalu. Aku selalu berusaha mencintaimu dengan cinta yang paling utama. Tapi, aku masih juga belum menemukan cinta tertinggi untuk_Mu. Aku makin merasakan gelisahku membadai, dengan cita yang mengawang, sedang kakiku mengambang tiada menjejak bumi. Sehinga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan.
Wahai ilahi, kemudian terbilang detik, menit, jam hari, bulan dan tahun berlalu. Aku mencoba merangkak  menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali untuk menatap, memohon dan mengiba. Allahur rohim, ilahi rabbi, perkenankanlah hamba mencintai_Mu semampuhku. Allahur rohman, ilahi rabbi, perkenankanlah hamba mencintai_Mu sebisaku dengan segala kelemahanku. Ilahi, aku tak sanggup mencintai_Mu dengan kesabaran menanggung derita umpama nabi ayub, musa, isa, hingga al mustofa. Karena itu, izinkanlah hamba mencintaimu melalui keluh kesahku, pengaduanku kepada_Mu atas derita batin dan jasadku atas sakit dan ketakutanku.
Ilahi rabbi, hamba tak sanggup mencintai_Mu seperti abu bakar yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan rasul_Mu bagi dirinya dan keluarga, atau layaknya umar ibn khottob yang menyerahkan separuh harta demi jihad fi sabilillah, atau utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk mensyiarkan din_Mu. Izinkanlah hamba mencintai_Mu melalui seratus dua ratus perak yang terulurkan kepada tangan-tangan kecil di perempatan jalan kepada wanita-wanita tua yang menengadahkan tangan di pojok-pojok jembatan, atau dengan makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.
Ilahi rabbi, hamba tak sanggup mencintai_Mu dengan khusyunya salah seorang sahabat nabi_Mu  hingga tiada terasa anak panah musuh terhujam di kakinya. Karena itu ya rabbi, perkenankanlah hamba tertatih menggapai cinta_Mu dalam solat yang ku dirikan terbata-bata, meski ingatan ingatan melayang menerawang berbagai permasalahan dunia. Rabbi, hamba tidak mampuh membaktikan diri hamba layaknya para ahli ibadah, yang menghabiskan malamnya untuk bercinta dengan_Mu. Maka izinkanlah hamba mencintai_Mu dengan solat satu dua rokaat lailku dalam desah syahdu.
Ya rohman, hamba belum sanggup mencintai_Mu bagai para huffadz yang menuntaskan kalam_Mu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah hamba mencintai_Mu dengan satu dua lembar tilawahku atau satu dua ayat hafalanku. Ya rohman ya rohim, hamba belum pula sanggup mencintai_Mu semisal sumayyah yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya din_Mu. Atau bagai para syuhada yang menjual diri dalam medan jihad di jalan_Mu. Maka, perkenankanlah hamba mencintai_Mu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan dalam berdakwah untuk_Mu. Izinkanlah hamba mencintai_Mu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru untuk_Mu.
Allahul karim, hamba belum sanggup mencintai_Mu di atas segalanya, bagai ibrohim yang rela meninggalkan putra dan istrinya untuk menjalankan perintah_Mu. Mempersembahkan putranya untuk_Mu sampai rela menyembelihnya, tapi kemudian Engkau ganti dengan domba. Maka izinkanlah hamba mencintai_Mu dalam segalanya. Izinkan hamba mencintai_Mu dengan mencintai keluarga, sahabat, dan mencintai manusia lainnya serta alam semesta ini.
Allahur rohmanur rohim, ilahi rabbi,  perkenankanlah hamba mencintai_Mu semampuhku agar kecintaan itu mengalun dalam jiwa agar cinta ini mengalir disepanjang nadiku.



                                                                                                                                               

Sabtu, 25 Februari 2012

Pribadi Muslim


Salimul ‘aqidah

Aqidah salimah merupakan syarat mutlak bagi seorang muslim, dimana ia meyakini bahwa  hanya Allah sahaja-lah  Tuhan yang mengatur  alam semesta ini, bahkan daun-daun yang berguguran dari pepohonan adalah merupakan aturan yang telah ditetapkannya. Dan ia meyakini bahwa hanya Allah sahaja-lah yang memberi rizki kepada semua mahluk, menghidupkannya dan juga mematikannya. Dan Dia-lah Allah Rabb yang memiliki asmaul husna (nama-nama indah).
Maka, dengan adanya aqidah (keyakinan) yang salimah (selamat) seperti yang diatas. Insya Allah hatinya akan terbuka, sehingga mudah menerima kebenaran yang menyapanya, mudah menerima cahaya hidayah dari Allah subhanallah wa ta’ala. Lantas ia pun akan meresapi makna ayat dibawah ini :
“katakanlah : ‘sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah Rabb alam semesta. tidak ada sekutu baginya, dan begitulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (kepada_Nya)’.” (al an’am : 162)
Dan ia pun enggan untuk berpaling dari Allah azza wa jalla kepada sesembahan lain :
“katakanlah : ‘apakah (Tuhan) selain Allah yang aku cari? Padahal Allah-lah Tuhan semesta Alam’.” (al an’am : 163)
Ia tetap istiqomah diatas keyakinan yang selamat dari kesyirikan yang menyesatkan :
Dari abi ‘amroh sufyan ibn ‘abdillah r.a berkata :
saya berkata : ‘ya Rasulullah katakanlah padaku perkataan yang ada dalam islam, yang dimana aku tidak akan bertanya tentangnya kecuali hanya kepada engkau’. Beliau bersabda : ‘katakanlah ; ‘aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqomahlah engkau’. (HR Muslim)


Shohihul ‘ibadah

                Ibadah adalah suatu bukti penghambaan diri seseorang yang ditujukan kepada Allah ta’ala secara murni tanpa ada unsur kesyirikan dan kebatilan. Oleh karena itu, hendaknya setiap individu mengetahui ilmu sebelum menjalankan ibadah, karena ibadah tidak akan benar (sah) bahkan tidak akan mencapai kesempurnaaan sebelum mengetahui ilmunya. Berapa banyak orang yang rajin dalam menjalankan ibadah, tetapi ibadahnya itu penuh dengan kesyirikan bercampur ria mencari pesona. Dan berapa banyak orang yang menjalankan ibadah, tetapi ibadahnya itu batil tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul_Nya.
Allah ta’ala berfirman :
“sesungguhnya kami menjadikan apa-apa yang ada dibumi sebagai perhiasan baginya, agar kami bisa menguji mereka, siapakah diantara mereka yang lebih bagus amal perbuatannya” (al kahfi : 7)
“Dia-lah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan, agar menguji kalian siapakah yang lebih bagus amal perbuatannya. Dan Dia-lah yang maha perkasa lagi maha pengampun”. (al mulk : 2)
                Dalam kedua ayat ini Allah tidak mengungkapkan ‘siapakah diantara kalian/mereka yang lebih banyak amal perbuatannya?’, akan tetapi Allah menyatakan ‘siapakah diantara kalian/mereka yang lebih bagus amal perbuatannya?’. Bagus disini adalah bermakna ikhlas hanya ditujukan kepada Allah semata bukan kepada selain_Nya. Dan juga sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan Allah melalui Rasul_Nya Muhammad Al amin yaitu dengan mutaba’ah (mengikuti petunjuk)  beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Husnul khulq

                Akhlaq mulia adalah merupakan keindahan yang nampak dari pribadi seseorang layaknya sinar rembulan dikegelapan malam, layaknya mutiara diatas tumpukan pasir hitam.
                Seorang muslim sejati adalah ia yang menghiasi setiap geraknya dengan akhlaq yang mulia, sehingga tampak jelas akan keindahan jati dirinya sebagai seorang muslim, seorang hamba Allah yang berserah diri.
Dari abi hurairoh r.a berkata : Rasulullah saw bersabda : “mu’min yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya”. (HR At tirmidzi)
                Dalam hadits ini, Rasulullah saw menggambarkan kesempurnaan keimanan seseorang dengan akhlaq’a yang baik. Subhanallah, akhlaq baik memang sebuah hal yang sangat penting yang harus dimiliki. Karena akhlaq baik adalah merupakan kesempurnaan iman. Iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada kutub Allah, iman kepada rusul Allah, iman kepada hari kiamat dan iman kepada qodo’ dan qodarnya Allah ta’ala.

Qowiyul jism

                Memiliki tubuh yang kuat dan sehat adalah merupakan suatu nikmat yang luarbiasa dari  Allah ta’ala, dimana dengan nikmat tersebut kita bisa melakukan banyak aktifitas yang bermanfaat baik untuk dunia terlebih lagi untuk akhirat.
Dari abi huraoiroh r.a berkata : bersabda Rasulullah saw : ‘sesungguhnya mu’min yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yang lemah, dan pada semuanya ada kebaikan. Berusahalah dalam mencapai apa-apa yang bermanafaat (untuk dunia-akhiratmu), dan (selalulah) memohon pertolongan kepada Allah dan janganlah (bersikap) lemah. Dan jika sesuatu menimpamu maka janganlah berkata : ‘seandainya aku mengerjakan begini tentu hasilnya tidak begitu’. Tetapi katakanlah : ‘Allah telah menetapkan, apa yang Dia kehendaki pastilah terjadi’. Karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ dapat membuka perbuatan (jahat) syaiton’. (HR Muslim)
Pada dasarnya, kuat-sehatnya tubuh tidak akan ada artinya jika tidak disyuuri dan tidak digunakan dalam rangka meningkatkan ketaatan kepada Allah. Apalah arti sebuah gunung yang besar menjulang  tinggi tapi tak ada satu tumbuhan pun yang menyertainya, bahkan bebatuan pun tidak ada. Ia hanyalah tumpukan kerikil yang tidak berarti, tidak memberi hasil apa-apa.
Maka manfaatkanlah tubuh kuat-sehatmu dengan sebaik-baiknya, sungguh anda tidak tahu harapan apa yang ada didalam hati orang yang sekarat lemah tak berdaya di rumah sakit. Sekali lagi, manfaatkanlah sebaik-baiknya di jalan Allah, sebelum datang keputusan yang pasti dari_Nya, yaitu KEMATIAN.






               
               
               
               
               



Kamis, 23 Februari 2012

Aku dan sakitku


                   Entah sejak kapan aku bersahabat dengan sakit,,,
                Sakit itu tak enak,,, bikin  tidur  tak nyenyak,,, makan tak nikmat,,,
Seandainya sakit itu adalah seorang laki-laki, 
tentu akan aku ajak ia berkelahi sampai aku bisa mengalahkannya.

Tapi ternyata, sakit adalah ketentuan dari_Nya. 
 Aku bersyukur bisa merasakan sakit. Karena dengan sakit, aku bisa mengerti bahwa sehat adalah anugerah luar biasa. 

Terima Kasih Ya Allah...!!!