Minggu, 17 November 2013

Jangan Beralasan!

Jawablah pertanyaan2 di bawah ini!

kenapa masih meninggalkan solat?, bla bla bla...

kenapa masih belum berhijab?, bla bla bla...

kenapa masih menyakiti hati orang tua?, bla bla bla...

kenapa masih tidak berpuasa di bulan romadhon?, bla bla bla...
...
kenapa masih lebih sering membuka facebook dibanding Al Qur'an?, bla bla bla...

kenapa masih sholat di rumah bukan berjamaah di mesjid (kaum laki)?, bla bla bla...

kenapa masih menganggap enteng perkara pacaran?, bla bla bla...

kenapa masih senang membicarakan aib orang?, bla bla bla...

kenapa masih mengidolakan orang-orang durjana dibanding mengidolakan orang-orang sholih; para nabi, shohabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in?, bla bla bla...

kenapa masih sering mengeluh di hadapan manusia ketimbang di hadapan Yang Maha Kuasa?, bla bla bla...

.......
Wahai saudara/saudariku seiman; yarhamukumullaah!
Boleh jadi kita bisa beralasan di dunia, tapi jangan dikira alesan itu bisa menyelamatkan kita ketika datang hari pembalasan.

Sungguh bibir akan dikunci dan kulit-kulit semuanya akan berbicara.
Semua yang ada di dalam hati akan terkuak.

"dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan (ditampakkan)" (al 'adiyat : 10)

"sehingga apabila mereka sampai ke neraka, (maka) pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang pernah mereka lakukan" (fushshilat : 20)

"pada hari ini kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang pernah mereka lakukan" (yasin : 65)

"wahai orang-orang yang ingkar! janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini (hari kiamat), sesungguhnya kamu hanya akan diberi balasan sesuai dengan apa yang kamu kerjakan" (at tahrim : 7)

hadaanaallaah jamii'an wa rozaqonaa at taubah qoblal maut.
(semoga Allah memberikan kita petunjuk dan mengaruniai kita ketaubatan sebelum kematian).

sungguh tidaklah pantas bagi kita mengemukakan suatu alasan terhadap apa2 yang sudah jelas perintah dan larangannya, baik itu di dalam Al Qur'an atau Al Hadits.

sikap seorang muslim/mu'min sejati ketika mendapati perintah atau larangan adalah,


"... dan mereka berkata; "kami mendengar dan kami menta'ati, (maka) ampunilah kami wahai Rabb, dan hanya kepadaMu lah kami kembali" (al baqoroh : 285)

Teruslah Beraksi!

Kita tidak akan pernah berhasil jika hanya melakukan aksi satu kali.
teruslah beraksi dan perbanyaklah, meski pun menjumpai kegagalan.

Tidakkah kita perhatikan bagaimana seorang anak yang beraksi untuk bisa berjalan? Berapa kalikah ia terjatuh? Dan berapa kali pulakah ia bangkit untuk terus beraksi sampai ahirnya ia berhasil dan dapat BERJALAN.

Sahabat!,
sejatinya keberhasilan itu; factor utamanya adalah ada pada diri kita.
Maka,

“Perbaikilah cara berpikirmu, karena itu bisa menjadi perbuatan.
Perbaikilah perbuatanmu, karena itu bisa menjadi kebiasaan.
Perbaikilah kebiasaanmu, karena itu bisa menjadi tabi’at/sifat.
Dan perbaikilah tabi’at/sifatmu, karena itu akan menentukan dimanakah tempat kembalimu (syurga atau neraka; keberhasilan atau kegagalan)”

Masih Ada Pintu Yang Lain

"Tidaklah Allah menutup satu pintu, melainkan pasti Ia membukakan pintu-pintu yang lain untukmu. Segala sesuatu ada hikmahnya"
~Ibnu Qayyim

janganlah anda bersedih lantaran tertutupi dari pintu yang ingin anda masuki,
karena cobalah anda membuka mata dan menoleh ke arah lain,
tentunya pasti anda akan mendapati pintu lain yang terbuka lebar untuk anda.

"adakalanya kita hanya terfokus pada satu pintu yang tertutup. padahal sebenarnya ada banyak pintu yang terbuka untuk kita. hanya saja, sedikit diantara kita yang dapat menyadarinya".

ketahuilah wahai sahabat! *semoga Allah merahmati dan memberkahimu.
pada segala sesuatu terdapat hikmah yang begitu luarbiasa jika kita mau merenungi dan menyadarinya.
Allah maha baik, Dia tidak pernah mempersulit.
justru diri kitalah yang sebenarnya mempersulit diri, lantaran kita yang tidak pernah menyadari hakekat kehendak Allah subhanahu wa ta'ala.

"...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan atasmu..." (Al Baqoroh : 185)

"...dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya kepadaNya lah kamu menghambakan diri..." (Al Baqoroh : 172)

siap untuk memasuki pintu yang lain?!
yupz! anda harus siap.

good luck!

Kamis, 14 November 2013

Motivasi Kata

"Hidup memang tak selalu seperti yang kita mau, hal buruk dan baik selalu terjadi, namun semua itu telah diatur oleh Allah berdasarkan hikmahNya"

"Setiap orang memiliki masalah, lebih baik kita mencari solusi untuk masalah kita sendiri, dan jangan membandingkan dengan masalah orang lain"

"Manusia yang terbaik adalah ia yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain"

"Kegagalan merupakan suatu pengalaman, jangan pernah takut gagal, karena kita bisa belajar darinya"

"Pakaian merupakan topeng manusia, perilaku merupakan wujud sebenarnya"

"Menolong dengan cara menutupi sebuah kebohongan sama saja dengan melakukan kebohongan itu sendiri"

"Jika kita belum matang untuk dikritik, berarti kita terlalu muda untuk dipuji"

"Menjadi lilin berarti memberikan cahaya bagi orang lain dan membiarkan diri kita sendiri terbakar"

"Jangan membenci mereka yang mengatakan hal buruk untuk menjatuhkanmu, karena merekalah yang membuatmu setiap hari semakin kuat"

"Kekuatan tidak bisa menjaga perdamaian, perdamaian hanya bisa diraih dengan saling pengertian"

"Kesedihan hanyalah lembaran buram yang ada dalam sebuah buku kehidupan, yang harus dilakukan adalah membuangnya dan menggantinya dengan lembaran baru"

"Salah satu hal yang terbaik adalah melihat senyuman di wajah orang tuamu, dan menyadari bahwa kamulah alasan mereka tersenyum"

"Jangan berharap pada jalan pintas untuk mendapatkan kesuksesan yang bertahan lama"

"Menertawakan masalah orang lain itu merupakan hal yang sangat mudah, tapi menertawakan masalahmu sendiri? Itu hanya orang hebat yang bisa"

"Jangan menghina barang yang bentuknya kecil, jarum yang kecil saja bisa menumpahkan darah"

"Pikirkan apapun yang saat ini kamu ucapkan, karena setiap ucapan yang akan keluar dari mulutmu, itu tidak akan bisa ditarik kembali"

"Orang yang mengetahui dirinya berdusta, maka ia tidak akan percaya terhadap orang yang jujur"

"Sahabat merupakan seseorang yang selalu ada di sampingmu, sabar mendengarkan keluh kesahmu, dan bersedia untuk selalu menemani menjalani hidup"

"Sahabat yang sejati dan setia, nilainya lebih dari semua emas yang ada di dunia ini"

"Bahagia bukan berarti sempurna segalanya, tapi bahagia adalah ketika kamu memutuskan untuk melihat semuanya secara sempurna"

"Mereka yang berani bertindak serinbgkali didatangi kesuksesan, tapi mereka yang penakut dan tidak berani mengambil konsekuensi jarang dihinggapi kesuksesan"

"Hidup itu seperti sebuah drama, kamu hanya tinggal memilih menjadi pemain atau menjadi penonton"

"Tidak ada rahasia untuk mencapai kesuksesan. Sukses itu terjadi karena adanya persiapan, kerja keras dan mau belajar dari kegagalan"

"Kebanggan terbesar adalah bukan karena kita tidak pernah gagal, tapi disaat kita bangkit setelah kita terjatuh"

"Kita diberikan satu lidah, namun kita juga diberikan dua telinga agar kita bisa mendengar dua kali lebih banyak dibandingkan berbicara"

"Jangan mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, tapi ingatlah kebaikan yang orang lain pernah lakukan kepada kita"

"Banyak orang mengatakan bahwa kesempatan hanya datang satu kali. Itu tidak benar, kesempatan akan selau datang asal kita siap untuk menanggapinya"

"Sahabat yang baik pasti tidak akan meminta sahabatnya menjadi orang lain, sahabat yang baik akan menerima sahabatnya apa adanya"

"Manusia tidak dirancang untuk gagal, tapi manusia sendirilah yang merancang suatu kegagalan"

"Visi tanpa eksekusi merupakan sebuah lamunan, tapi eksekusi tanpa misi merupakan sebuah mimpi buruk"

"Jenius adalah orang yang bisa membuat hal rumit menjadi terlihat sederhana"

"Jangan katakan: Wahai Rabb, aku memiliki masalah besar, tapi katakanlah: Hei masalah, aku memiliki Rabb yang maha besar"

" Merenung dalam satu menit, dapat menyelamatkan hidup kita dalam satu hari"

"Dalam melakukan sesuatu kita tidak harus menjadi seorang ahli, karena keahlian itu akan datang ketika kita melakukannya"

"Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri, daripada harus disukai tapi menjadi orang lain"

"Salah satu ciri dari orang yang pandai adalah orang yang mampu memanfaatkan mimpinya menjadi hal yang lebih berguna untuk orang lain"

"Setiap cerita pasti memiliki akhir, tapi dalam kehidupan akhir merupakan sebuah awal yang baru"

"Setiap orang mencoba untuk mencapai hal besar, tanpa menyadari bahwa kehidupan merupakan kumpulan dari titik-titik kecil"

"Berusalah untuk tidak menjadi seorang manusia yang berhasil tapi menjadi manusia yang berguna"


"Belajar memang hal yang melelahkan, tapi akan lebih lelah jika kelak nanti saat ini tidak belajar"

Rabu, 13 November 2013

Mutiara Kata

“Selalulah menjadi jembatan yang dapat menghubungkan antara manusia satu dengan yang lain, dan janganlah menjadi penghalang yang memutuskan hubungan antara mereka” (page; tsaqiqf nafsak)

“Lisanmu, hendaklah engkau tidak menyebut aib orang lain dengannya. Karena sesungguhnya engkau pun memiliki aib, dan orang lain pun memiliki lisan.
Matamu, jika engkau melihat aib orang lain, maka jagalah (jangan diceritakan). Dan katakanlah, ‘wahai mata!, sesungguhnya orang lain pun memiliki mata (mereka bisa saja melihat aibmu, tapi mereka menjaga dan menutupinya)” (page; tsaqqif nafsak)

“Sungguh menyakitkan; aku hidup di zaman yang mana kelicikan dianggap sebagai kecerdasan, dan kebaikan (kejujuran) dianggap sebagai kenaifan” (page; tsaqqif nafsak)

“Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah membuat permisalan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; yang akarnya menancap kekar (di tanah) dan cabangnya menjulang ke langit” (Ibrahim : 24)

“Bagaimana mungkin seorang yang memiliki Rabb itu bersedih; (bukankah) Dia yang mentakdirkan, Dia yang memberi keberhasilan, Dia yang menutupi aib/keburukan, Dia yang melapangkan rizki, Dia yang melihat, Dia yang mendengar, dan Dia yang di tanganNya lah segala perkara dan urusan ditentukan” (image hicham)

“Tersenyumlah! Tersenyumlah sahaja!, dan jangan pernah berkata seseuatu yang menyakitkan. Karena berkata baik itu adalah sodaqoh” (image layaale)

“Hikmah atau kebijaksanaan ialah mengerjakan sesuatu yang memang layak dan pantas untuk dikerjakan, dikerjakan sesuai dengan waktu dan kondisi yang tepat. Dan pondasinya adalah ilmu, sabar dan tenang.
Dan yang merusak hikmah/kebijaksanaan ialah kebodohan (tiadanya ilmu), bertindak asal-asalan, dan ketergesa-gesaan” (Ibnul Qayyim)

“Kalimat yang baik ialah yang menyenangkan dan melegakan hati pendengar, dan meninggalkan bekas yang mudah dikenang di dalam jiwa pendengar, dan yang membuka pintu-pintu kebaikan, dan yang menutup pintu-pintu keburukan. Jagalah diri kalian dari api neraka walau (bersedekah) dengan sebiji kurma, jika pun tidak punya maka dengan kalimat yang baik” (image ald3wh)

“Kalimat yang baik akan menumbuhkan kenangan yang baik di dalam hati, dan cabangnya akan menjulang sampai ke atas langit” (image abrar salah)

“Hidup mengajarkanku; bahwa kalimat yang baik itu dapat menutup pintu kebencian dan membuka pintu kasih saying” (image tran33m)

“Perbaikilah cara berpikirmu, karena itu bisa menjadi perbuatan. Perbaikilah perbuatanmu, karena itu bisa menjadi kebiasaan. Perbaikilah kebiasaanmu, karena itu bisa menjadi tabi’at/sifat. Dan perbaikilah tabi’at/sifatmu, karena itu akan menentukan dimanakah tempat kembalimu (syurga atau neraka)” (page; tsaqqif nafsak)

“Barangsiapa yang memohonkan ampun untuk kaum mu’minin dan mu’minah, maka Allah akan mencatatkan kebaikan baginya berdasar jumlah mu’min dan mu’minah (seluruhnya yang ada di muka bumi)” (HR. Thabrani dengan sanad jayyid)
“Sungguh ada kebahagiaan luarbiasa yang didapat para ahli hijab (orang-orang yang menutup dan menjaga aurat), yang mana kebahagiaan itu tidak dapat dikecap oleh orang yang tidak pernah merasakan manisnya menutup dan menjaga aurat” (image hawahome)

“Sebaik-baik hati adalah hati yang tidak pernah luput dari kejujuran. Seutama-utama manusia untukmu adalah ia yang tidak pernah melupakanmu, sebab ia mencintaimu karena Allah. Sebaik-baik hari adalah hari yang engkau lalui tanpa dosa. Dan seutama-utama hadiah adalah do’a yang dipanjatkan untukmu (oleh orang lain) sedangkan engkau tidak mengetahuinya” (image plus.google)


Selasa, 12 November 2013

Kematian Itu Sangat Dekat

bukanlah kematian itu dalam peperangan,
bukanlah pula di padang tandus sahara,
bukanlah pula di tengah lautan bergelombang,
bukanlah pula di jalan-jalan rawan,
bukanlah pula di hutan rimba,
bukanlah pula di dalam penjara singa,
bukanlah pula di tiang gantung,
tapi,
kematian itu tepat di belakang punggung,
siap menyergap kapan saja dia mau,
sedang kita tidak pernah menyadari atau tahu sedikit pun,
barulah kita tahu bila sudah ditimbun debu-debu kematian.

kita hanya menyangka bahwa daun tua-lah yang pasti akan jatuh,
oh lupakah kita bahwa angin itu bisa berhembus sekehendaknya berdasar perintah Yang Maha Kuasa.
bukankah anak kelapa yang kecil sering kali jatuh lebih dahulu daripada yang tua?!.

"..Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.." (Luqman : 34)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan" (Ali Imron : 185)


"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur" (Ali Imron : 145)

Dampak Dari Berbicara


Sahabat, merupakan nikmat besar yang telah Allah berikan kepada kita adalah mulut atau bibir, yang mana dengannya kita dapat berbicara atau berkata. Sejatinya setiap orang memiliki gaya bicara masing-masing sesuai lingkungan dimana ia hidup di dalamnya. Ada yang halus, kalem, keras, bahkan ada gaya bicara yang jikalau kita tidak mendekatkan telinga atau menyimak dengan baik, maka hampir-hampir kita tidak dapat mendengar isi pembicaraannya lantaran saking halus dan lembutnya.
Mari sahabat, kita sedikit berkisah tentang seorang sahabat mulia yang merasa bersalah lantaran memiliki gaya bicara yang keras (jangan dipahami kasar loch!).
Adalah sahabat yang bernama Tsabit bin Qais Radiyalaahu ‘Anhu. Suatu hari, beliau berjalan dalam keadaan menangis. Kemudian datanglah ‘Ashim bin ‘Adi bin Al-Ajan dan bertanya, “mengapa engkau menangis?”, beliau menjawab, “sungguh aku hawatir jikalau ayat ini turun berkaitan dengan diriku, karena aku ini seorang yang bersuara keras”.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.  Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah supaya menjadi bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Hujurat : 2-3)
Lihatlah wahai sahabat!, bagaimana sikap Tsabit bin Qais yang menangisi dirinya lantaran ia merasa bahwa ia memiliki suara yang keras yang mungkin pernah menyakiti Rasulullah atau menyakiti sahabat yang lain. Ia terus-menerus menangisi hal tersebut, memikirkan kalau-kalau amalan-amalan baiknya akan terhapus oleh sebab suaranya yang keras (bacalah kembali makna ayat diatas!). Tapi kemudian hal itu diadukan kepada Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu beliau bersabda,
“wahai Ibn Qais!, apakah engkau tidak ridha jika engkau hidup terpuji, mati syahid dan masuk surga?”.
Tsabit bin Qais menjawab, “Aku ridha dan aku tidak akan mengeraskan suaraku di hadapan Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk selama-selamanya”.
Wahai sahabat!, mungkin diantara kita ada yang memiliki suara yang keras dan lantang. Tapi sunguh, yang demikian bukanlah merupakan suatu kebaikan, karena dihawatirkan akan salah dipahami oleh orang lain (kecuali di beberapa kondisi; ceramah/pidato). Meski pun suara keras itu merupakan tabi’at atau bawaan dari lingkungan. Maka sebaiknya, kita selalu berusaha untuk merendahkan suara atau melembutkan gaya bicara kita ketika kita berbicara dengan orang lain, terutama kedua orang tua, para guru, orang-orang yang lebih tua, bahkan dengan anak-anak sekali pun.
Jika berbicara dengan suara keras saja bisa menghapus pahala amalan-amalan baik, maka bagaimana jika berbicara dengan suara keras dan juga kasar ditambah omongkosong terus menyakitkan?!.
Maka sungguh indahlah apa yang pernah dipesankan oleh Rasulullah Sallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik-baik atau diam”.
Dan beliau juga pernah bersabda kepada salah seorang sahabat,
“sesungguhnya engkau memiliki dua sifat yang sangat dicintai Allah, yaitu sikap lembut dan tenang (dalam berbicara dan bertingkah)”.
Dan tidak ketinggalan, bahwasanya Allah pun telah berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman!, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar (baik , jujur dan tidak menyakitkan), niscaya Allah akan memperbaiki bagimu segala amalanmu (usahamu) dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sungguh ia telah mendapatkan kemenangan (kesuksesan) yang besar” (Al Ahzab : 70-71)
Nah, wahai sahabat!, sekarang kita mengetahui mengapa kita hanya dianjurkan untuk berbicara yang baik-baik atau diam. Karena ternyata bicara itu dampaknya sangat luarbiasa. Jikalau bicara itu kasar lagi buruk, maka bisa menghapus segala usaha kita untuk meraih kebaikan dan keberhasilan dunia-akhirat, dan sebaliknya bicara baik lagi jujur bisa memperbaiki dan melancarkan segala usaha kita untuk meraih kebaikan dan keberhasilan dunia-akhirat. Itu sudah janji Allah!. Maka sekarang kita tingal memilih; berusaha untuk selalu berbicara baik dan jujur atau bicara keras, kasar dan menyakitkan.
Orang yang hatinya baik, pasti akan memilih yang baik. Orang yang berakal, pasti akan memilih yang benar. Nice!


Senin, 11 November 2013

Orang Kafir; Sia-sia Perbuatan Mereka

Orang kafir itu sia-sia perbuatannya,,
sehebat apa pun perbuatan mereka dan sebesar apa pun manfaat dari perbuatan mereka,, dan sesukses apa pun mereka di dunia ini,, tetap saja sia-sia.
sesuatu yang hanya sebatas dunia, maka itu adalah sia-sia.

cita-cita paling rendah yang dicitakan manusia adalah ketika dia menjadikan dunia sebagai tujuan dan akhirat sebagai sampingan.
tidak mengenal Allah kecuali sedikit saja.

"Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi (maka) tidak ada apa pun.." (An Nur : 39)

"katakanlah (wahai Muhammad!), 'apakah mau kalian aku kabarkan tentang orang yang paling rugi perbuatannya?. (yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan ia mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Ia adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan (tidak percaya) terhadap pertemuan denganNya. maka sia-sialah amal perbuatannya dan Kami tidak akan memberikan penimbangan terhadap amal perbuatannya pada hari kiamat" (Al Kahfi : 103-105)

maka janganlah tertipu dengan gaya atau perbuatan mereka di kehidupan dunia ini!
ingatlah baik-baik nasihat Allah jika kita benar2 mencintaiNya;

"janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. itu hanyalah kesenangan sementara. kemudian tempat kembali mereka adalah jahannam. itulah seburuk-buruk tempat. (Ali Imron : 196-197)

sungguh,
anak kecil mu'min yang mengerjakan sholat lebih pantas untuk dicontoh ketimbang orang dewasa kafir yang sedang membuat pesawat.
yang ini sedang bersama Allah, yang ini entah bersama siapa?!

manakah yang lebih baik untuk diikuti?!.

Minggu, 20 Oktober 2013

Kekeliruan Cinta

Mengapa kita bisa begitu mudah mencintai seseorang, bahkan hanya dikarenakan senyumnya saja?, sedangkan untuk mencintai Allah, kita begitu kesulitan, padahal Dia telah memberikan sejuta senyumNya untuk kita.
Mengapa kita bisa begitu mudah mengorbankan segalanya untuk orang yang dicintai, bahkan harus mati sekali pun?, sedangkan berkorban sedikit saja untuk meraih kecintaan Allah, kita begitu malas. Seberapa seringkah kita berkorban melangkahkan kaki kita menuju masjid untuk menyambut seruanNya melalui perantara seorang muadzin?!
Mengapa kita bisa begitu mudah mengumbar perasaan dihalayak ramai, bahkan kita begitu bangga melakukannya?, sedangkan untuk mengungkap secuil kata cinta kepada Allah, kita merasa malu. Bahkan untuk menyebut namaNya saja di halayak ramai, kita merasa malu dan enggan.
Mengapa kita bisa begitu mudah meminta maaf kepada orang yang dicinta, bahkan kita melakukannya dengan memohon-mohon, padahal sebenarnya kita tidak bersalah?, sedangkan kepada Allah, yang jelas-jelas kita banyak salah dan dosa, kita malah belum pernah memohon maaf atau memohon ampun kepadaNya.
Mengapa kita bisa begitu mudah mengulang-ulang membaca sms atau surat dari orang yang dicinta, bahkan sampai tidak bergeming ketika dipanggil oleh orang lain, saking khusyunya kita?, sedangkan untuk membaca Al Qur’an yang mana jelas-jelas itu adalah kalam Allah yang tersurat dan tersirat, kita malah mengabaikannya. Menyentuhnya saja entah, apalagi membacanya berulang-ulang.
Mengapa kita bisa begitu mudah hawatir dan gelisah ketika hendak diputus atau ditinggal oleh orang yang dicinta, bahkan tidak jarang membuat kita depresi?, sedangkan kita tidak pernah perduli dan tidak pernah mau tahu apakah Allah memutuskan kita atau meninggalkan kita.
Sungguh banyak kekeliruan yang terjadi diantara kita, para remaja.
Itu semua lantaran kita yang kurang mengenal Tuhan kita sendiri, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal perhatikanlah bagaimana Allah mensifati kita sebagai orang yang beriman,
“..Dan orang-orang beriman, kecintaan mereka sangat besar kepada Allah..” (Al Baqoroh : 165)
Allah mengatakan bahwa orang yang beriman itu cintanya teramat sangat kepada Allah. Dan tidakkah juga kita ingin termasuk kedalam kaum yang disifati oleh Allah,
“..Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang mana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah..” (Al Maidah : 53)
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah!, sungguh jikalau seseorang telah merasakan kecintaan kepada Allah, maka dunia beserta isinya tiada lagi berguna. Sebab baginya menghabiskan waktu semenit dengan Allah itu lebih baik dan lebih nikmat, ketimbang ribuan tahun menikmati kecantikan dunia beserta isinya. Apalagi hanya seorang wanita.
Jika hanya mencintai wanitanya saja, maka itu hal biasa. Tapi jika sampai mendalam mencintai Yang Menciptakannya, maka itulah hal yang luar biasa. Coba saja deh!

Jumat, 18 Oktober 2013

Kesempurnaan Rindu



Seberat apa pun kita menanggung rindu pada seorang yang dicinta,
jika yang menjadi sandaran adalah Allah.
maka kerinduan itu menjadi sesuatu yang ringan dan mengasyikkan.
tiada keperihan, tiada pula keriasauan lantaran perpisahan dan jarak yang jauh.
karena pada hakekatnya, rindu itu membuat segalanya terasa dekat dan sebentar.

seperti zulaikha yang bertahun-tahun merindukan kehadiran yusuf,
ia menderita berkepanjangan dan hampir setiap waktunya ia habiskan untuk bersyair mengungkap kerinduan pada yusuf,
sehingga kemudian ia menemukan sandaran untuk kerinduannya; yaitu Allah Subhanahu Wa'ala,
dan setelah itu, ia hampir lupa dengan orang yang ia rindui selama ini,
lantaran lebih menikmati manisnya bersandar pada Yang Maha Terkasih,

subhanallaah wal hamdulillaah

Hidupku adalah kerinduan seluruhnya

Aku tidak mengerti kenapa aku masih saja merindukanmu?, lamanya perpisahan belum juga mampu menghapusmu dari kehidupanku, justru malah menambahku semakin mengingat dan memikirkanmu. Bahkan aku sampai pernah menangis karena menahan perihnya rindu ini.

Aku yang selalu berangan ingin jumpa denganmu walau hanya sebentar saja. Tapi entah kenapa? sampai sekarang aku belum juga berjumpa denganmu. Mungkin karena memang Allah belum mengizinkan. Aku hanya bisa pasrah mengarungi laut kerinduan yang begitu panjang ini. Entah berujung atau tidak.

Bidadari,, semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu. Aku tidak memaksamu untuk merinduiku juga. Karena itu terserah padamu. Engkau berhak memilih lelaki yang lebih baik dariku. Dan percayalah bahwa aku tidak akan kecewa. Sebab, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.
           
Bidadari,, ketahuilah! Bahwa sesungguhnya aku selalu berharap bisa segera mati meninggalkan dunia ini. Sebab, merindukanmu di dunia membuatku tersiksa. Mungkin jika aku di atas sana, aku bisa lebih tenang meneruskan kerinduanku padamu.
           
Bidadari,, aku berdoa kepada Allah agar menjaga perasaan ini jika memang benar adanya. Aku tidak pernah lagi bercerita dengan siapa pun kecuali hanya kepada Allah. Aku selalu bercerita kepadaNya tentang perasaan ini. Dia membuatku tenang dan damai. Aku bersyukur kepadaNya karena mengizinkanku untuk merindui seorang bidadari di dunia ini. Dan bidadari itu adalah kamu.
           
Bidadari,, terimakasih untuk setiap tatap mata, senyuman, sentuhan kecil, suara telpon, sms, dan sebagainya. Dan terimakasih juga karena bidadari telah membuatku merasakan manisnya rindu, walau kadang juga terasa perih. Tapi apalah perih itu bila setelahnya aku merasakan apa yang aku rasakan; manis. Terimakasih dan terimakasih!
           
Aku tidak peduli seberapa lama lagi perpisahan ini. Aku tidak peduli seberapa jauh aku dipisahkan olehNya darimu. Sebab, rindu ini membuat segalanya terasa pendek dan dekat. Oh sungguh, hidupku adalah kerinduan seluruhnya.